Senin, 30 Mei 2011

Anda Layak Menang

"Wah, saya kalah dari Anda. Tapi terima kasih". Mungkin itu yang diucapkan Sir Alex Ferguson dalam hati saat menyalami Pep Guardiola usai timnya ditundukkan 3-1 oleh Barca. Sunggingan senyum dan jabat tangan yang ditunjukkan pelatih asal Skotlandia tersebut merupakan sikap “legowo” dan pujian pada pihak yang menang.

"Mereka layak mendapatkan trofi tersebut", ungkap pelatih MU tersebut.

Ternyata perbedaan usia dan pengalaman antara Sir Alex Ferguso dan Joseph Guardiola tak membuat Guardiola "tunduk" begitu saja pada pelatih yang lebih tua 29 tahun darinya. Kombinasi strategi cemerlang Pep Guradiola dan permainan para bintang Barca itu telah memukul telak pelatih dan klub sekelas Fergusin dan MU. Namun saya tak’kan berkomentar atau menganalisa jalannya pertandingan tersebut. Selain semua orang sudah tahu, dilihat dari segi mana pun, laga final Liga Champions di Stadion Wembley, London ini merupakan drama yang indah. Tak ada dendam, sakit hati, bangga berlebihan karena semua menyadari arti dari sepakbola itu sendiri, yaitu sebuah permainan. Dan tak ada tujuan lain dari sebuah permainan selain kepuasan dan rasa senang. Puas telah bermain dan senang karena telah berkompetisi. Sedangkan hasil hanyalah bonus akhir.

Saya hanya ingin berandai-andai setelah melihat drama pertandingan MU versus Barca ini. Seaindainya jiwa dan semangat kompetisi sehat ini dapat membumi di negeri ini alangkah indahnya. Apalagi jika semangat ini telah tertanam sejak kecil, maka saat ada ulangan guru tak perlu lagi mengacak soal atau memisahkan tempat duduk agar siswanya tak contekan. Apalagi sampai memakai CCTV dan pengawasan dari kepolisian saat UN. Sehingga muncul pertanyaan dibenak saya, "Apakah bedanya siswa dengan seorang kriminal?" Padahal siswa adalah bibit-bibit cendikia bangsa yang dididik oleh orang-orang terpelajar. Tumbuh dan hidup di lingkungan yang mengutamakan nilai-nilai moral. Apakah pantas jika mereka dijaga oleh aparat yang sama dengan penjaga para kriminal?Cukuplah para guru dan orang tua saja.

Angan-angan saya pun tak berhenti sampai di situ. Jika sedari kecil budaya kompetisi tak sehat ini berlanjut hingga dewasa, maka bagaimana nanti saat dewasa? Yang jelas berbagai polemik di sekitar kita bisa jadi berawal dari kompetisi tak sehat yang terbiasa sejak kecil tersebut. Untuk menjadi pemenang menghalalkan segala cara. Harga diri dan tali persaudaraan digadaikan demi satu kata, menang.

Contoh yang paling terlihat saat ini adalah polemik di kalangan elit. Dua isu yang paling marak diperbincangkan adalah kasus Nazarudin dan konflik di tubuh PSSI. Siapa yang tidak tahu? Yang satu merupakan permainan politik dengan taruhan nama baik. Sedangkan yang lain adalah kompetisi perebutan kekuasaan. Dua-duanya merupakan permainan dan berujung pada benar-salah dan kalah-menang. Namun begitu, bagaimanakah proses menuju ujung tersebut? Masyarakatlah yang akan menjadi juri sekaligus penonton setianya. Dan sebagaimana kebanyakan penonton sedikit banyak akan mengambil tamsil dari yang telah ditontonnya. Selanjutnya sadar atau tidak akan mempengaruhi budaya berkompetisinya dalam keseharian.

Kita boleh iri dengan budaya kompetisi sehat seperti yang diperlihatkan MU dan Barca. Tapi tahukah kita bahwa budaya tersebut tak tumbuh secara instan. Dalam kehidupan sehari-hari apresiasi dalam setiap usaha orang lain benar-benar diberikan dengan tulus. Jika ada seorang siswa bertanya dalan kelas, maka yang lain benar-benar antusias untuk memperhatikannya, alih-alih merasa jengkel karena membuat waktu pelajaran bertambah. Begitu juga saat mereka berkompetisi. Fear Play benar-benar dijunjung tinggi sehingga ketika satu pihak kalah, mereka akan dengan gentle menyatakan, "Anda Memang Layak Menang".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar