Senin, 30 Mei 2011

Zaman Baru, Media Baru

Islam merupakan agama samawi yang terakhir kali datang ke dunia. Beberapa puluh abad sebelum Islam datang telah ada agama samawi yang lebih dahulu berkuasa dan mengakar di masyarakat. ketika Islam datang dalam kurun waktu dua dekade telaah mampu memangkas batang ranting agama-agama terdahulu dan meletakkan benih yang telah tumbuh hingga sekarang. dan kesuksesan Nabi Muhammad, sebagai pembawa agama Islam, tak lepas dari media dan metode dakwah yang gemilang.

Begitu pun saat Islam pertama kali masuk ke Indonesia. Akar budaya masyarakat yang dinamisme dan mengakar berbadad-abad di nusantara mampu tergeser oleh monoteisme Islam berkat media dan metode dakwah penyebarnya, Wali Songo, yang tepat guna.

Setelah berlalu hampir tiga abad era Wali Songo, masyarakat mulai menjauh dengan metode "konservatif" pesantren. Santri saat ini citranya telah brgeser. Dari agen of chance menjadi terpinggirkan dan tak dianggap. Bahkan pendapat yang lebih ekstrim menyatakan bahwa santri itu identik dengan kampungan, bersarung, penyakitan, dan gaptek.

Menanggapi hal semacam itu, maka mulailah berkembang metode dan media yang baru. Salah satunya adalah penggunaan media. Para ustad mulai tampil gaul dan sering tampil diberbagai media elektronik. Sebutlah Ustadz Yusuf Mansur, AA Gym, Ustad Jefri, dsb. Selain itu media cetak pun tak mau kalah dalam menanggapi kehausan masyarakat awam akan siraman rohani. Maka muncullah berbagai kolom dan rubrik islami. Bahkan ada beberapa media massa yang memberi ruang khusus yang mengupas masalah keislaman, katakanlah HU Republika dengan Islam Digest-nya yang terbit setiap hari Minggu.

Tapi segala usaha tersebut belumlah cukup. Karena saat ini telah muncul pillar kelima dalam negara. Sebagaimana kita tahu, tiga pilar utama negara yaitu eksekutif, yudikatif, dan legislatif telah menjadi fondasi bagi semua negara republik di dunia. Namun ketika industri media mulai berkembang, muncullah pilar keempat yaitu media massa. Media massa  dianggap dapat mengakomodasi suara rakyat. Akan tetapi saat ini pilar keeempat ini berikut tiga sebelumnya dianggap telah terdistorsi oleh berbagai kepentingan dan dimonopoli oleh sekelompok golongan, sehingga muncullah pilar kelima. Dunia maya. Internet telah menjadi sesuatu yang masif dan anonim.

Itulah yang saat ini sedang dimanfaatkan oleh PT Telkom Indonesia melalui program CSR. Salah satunya adalah Santri Indigo. Bekerja sama dengan Republika Online, program yang telah berjalan sejak sekitar tahun 2008 ini bertujuan membuat kalangan pesntren, terutama santri, agar melek internet. Dengan begitu berbagai materi, budaya, dan dunia pesantren dapat mengimbangi informasi dunia maya yang didominasi oleh konten-konten "hitam". Sehingga muncul platform Putihkan Internet.(Alfan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar