Tampilkan postingan dengan label Warta Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta Santri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Mei 2011

Santri Indigo Sambangi Pesantren Al-Hikam Malang

Setelah sukses di Cilegon - Banten - Jawa Barat, tanggal 30 - 31 Mei 2011 mendatang PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dan Harian Republika akan bertandang ke Pondok Pesantren Al-Hikam Malang Jawa Timur untuk menggelar pelatihan internet pesantren.

Seperti acara sebelumnya, acara ini akan menghadirkan para pakar bidang IT dan blogger yang telah berhasil meraup keuntungan dalam peranannya di dunia maya internet, seperti Indra Utoyo (direktur IT & Suplay Telkom, Muhammad Thalib (PT Zahir Internasional), Bang Zenk (Blogger), Gilang Ramadhan (Musisi), Slamet Riyanto dan M Afif dari Republika Online.

Perhelatan yang akrab disebut dengan Pelatihan Santri Indigo ini mengajarkan kepada para santri agar berdakwah di dunia maya - internet. Tujuannya adalah agar umat Islam pada umumnya dan para santri yang kelak bakal menjadi juru dakwah dapat menjadi penetrasi informasi di dunia tanpa batas internet. Dalam kesempatan tersebut para santri akan dilatih membuat web-blog di internet, wawasan teknologi informasi, dan berbagai motivasi dari para pakar.

Pelatihan internet bagi para santri dan ustad ini dilangsungkan selama dua hari, para pengajar dari unsur birokrat, pakar informasi, akademisi, profesional, dan praktisi informasi.

Para peserta pelatihan adalah santri dan ustad dari pondok pesantren diwilayah Malang - Jawa Timur, minimal kelas 11 (Aliah), dan akan didampingi oleh ustad dari masing-masing pesantren.

Source: Santri-Indigo

Senin, 30 Mei 2011

Zaman Baru, Media Baru

Islam merupakan agama samawi yang terakhir kali datang ke dunia. Beberapa puluh abad sebelum Islam datang telah ada agama samawi yang lebih dahulu berkuasa dan mengakar di masyarakat. ketika Islam datang dalam kurun waktu dua dekade telaah mampu memangkas batang ranting agama-agama terdahulu dan meletakkan benih yang telah tumbuh hingga sekarang. dan kesuksesan Nabi Muhammad, sebagai pembawa agama Islam, tak lepas dari media dan metode dakwah yang gemilang.

Begitu pun saat Islam pertama kali masuk ke Indonesia. Akar budaya masyarakat yang dinamisme dan mengakar berbadad-abad di nusantara mampu tergeser oleh monoteisme Islam berkat media dan metode dakwah penyebarnya, Wali Songo, yang tepat guna.

Setelah berlalu hampir tiga abad era Wali Songo, masyarakat mulai menjauh dengan metode "konservatif" pesantren. Santri saat ini citranya telah brgeser. Dari agen of chance menjadi terpinggirkan dan tak dianggap. Bahkan pendapat yang lebih ekstrim menyatakan bahwa santri itu identik dengan kampungan, bersarung, penyakitan, dan gaptek.

Menanggapi hal semacam itu, maka mulailah berkembang metode dan media yang baru. Salah satunya adalah penggunaan media. Para ustad mulai tampil gaul dan sering tampil diberbagai media elektronik. Sebutlah Ustadz Yusuf Mansur, AA Gym, Ustad Jefri, dsb. Selain itu media cetak pun tak mau kalah dalam menanggapi kehausan masyarakat awam akan siraman rohani. Maka muncullah berbagai kolom dan rubrik islami. Bahkan ada beberapa media massa yang memberi ruang khusus yang mengupas masalah keislaman, katakanlah HU Republika dengan Islam Digest-nya yang terbit setiap hari Minggu.

Tapi segala usaha tersebut belumlah cukup. Karena saat ini telah muncul pillar kelima dalam negara. Sebagaimana kita tahu, tiga pilar utama negara yaitu eksekutif, yudikatif, dan legislatif telah menjadi fondasi bagi semua negara republik di dunia. Namun ketika industri media mulai berkembang, muncullah pilar keempat yaitu media massa. Media massa  dianggap dapat mengakomodasi suara rakyat. Akan tetapi saat ini pilar keeempat ini berikut tiga sebelumnya dianggap telah terdistorsi oleh berbagai kepentingan dan dimonopoli oleh sekelompok golongan, sehingga muncullah pilar kelima. Dunia maya. Internet telah menjadi sesuatu yang masif dan anonim.

Itulah yang saat ini sedang dimanfaatkan oleh PT Telkom Indonesia melalui program CSR. Salah satunya adalah Santri Indigo. Bekerja sama dengan Republika Online, program yang telah berjalan sejak sekitar tahun 2008 ini bertujuan membuat kalangan pesntren, terutama santri, agar melek internet. Dengan begitu berbagai materi, budaya, dan dunia pesantren dapat mengimbangi informasi dunia maya yang didominasi oleh konten-konten "hitam". Sehingga muncul platform Putihkan Internet.(Alfan)